Senin, 15 April 2013

PEMERIKSAAN DALAM


BAB I
PENDAHULUAN
A.             Latar Belakang
          Pemeriksaan dalam berguna untuk melihat ada tidaknya suatu kelainan pada vagina sampai mulut rahim. Tak hanya berguna bagi ibu hamil, pemeriksaan ini juga bisa untuk menegakkan diagnosis kasus-kasus seperti infeksi pada saluran indung telur, tumor, kanker dan sebagainya.Sampai saat ini belum ada alat secanggih apa pun yang bisa menggantikan fungsi pemeriksaan dalam. USG, umpamanya, hanya bisa diandalkan untuk mengevaluasi kesejahteraan janin maupun kondisi rahim, sementara kondisi mulut rahim itu sendiri tak bisa dinilai.
          Selain itu pemeriksaan dalam juga berperan penting dalam persalinan, terutama untuk menilai keadaan janin serta keadaan serviks. Misalnya untuk menilai pembukaan servik, atau untuk menilai penurunan kepala janin.
          Oleh sebab itu dirasa penting untuk membuat makalah yang membahas tentang pemeriksaan dalam (vaginal Touche)

B.            Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi Pemeriksaan dalam
2.      Untuk mengetahui langkah-langkah dalam pemeriksaan dalam
3.      Untuk mengetahui prosedur sebelum, selama serta sesudah pemeriksaan dalam.

C.            Rumusan masalah
1.      Apakah definisi dari pemeriksaan dalam
2.      Bagaimana langkah-langkah pemeriksaan dalam
3.      Apa saja prosedur yang harus dilakukan sebelum, selama serta sesudah pemeriksaan dalam




BAB II
A.             Definisi
Pemeriksaan dalam adalah pemeriksaan genitalia bagian dalam mulai dari vagina sampai serviks menggunakan dua jari, yang salah satu tekniknya adalah menggunakan skala ukuran jari(lebar satu jari berarti 1 cm) untuk menentukan diameter dilatasi serviks (pembukaan serviks  atau portio).
B.             Tujuan
Pemeriksaan dalam dilakukan dengan tujuan:
1.              Untuk menentukan apakah penderita benar dalam keadaan inpartu
2.              Untuk menentukan faktor janin dan panggul
3.              Menentukan ramalan persalinan
4.              Untuk menilai vagina (terutama dindingnya), apakah ada bagian yang menyempit
5.              Untuk menilai keadaan serta pembukaan servik
6.              Untuk menilai ada atau tidaknya tumor pada jalan lahir
7.              Untuk menilai sifat flour albus dan apakah ada alat yang sakit, misalnya bartholinitis
8.              Untuk mengetahui pecah tidaknya selaput ketuban.
9.              Untuk mengetahui presentasi janin
10.          Untuk mengetahui turunnya kepala dalam panggul
11.          Untuk mengetahui penilaian besarnya kepala terhadap panggul
12.          Untuk mengetahui apakah proses persalinan telah dimulai serta kemajuan persalinan.
C.             Indikasi
1.             Selama kehamilan, seharusnya pemeriksaan dalam dilakukan dua kali, yakni:
a.             Trimester awal
Saat ibu hamil pertama kali datang ke dokter kandungan untuk memastikan kehamilan umumnya akan dilakukan pemeriksaan dalam secara keseluruhan. Jika memang ada kehamilan akan teraba adanya pembesaran rahim dan tanda hegar (terabanya antara mulut rahim dan badan rahim seolah terpisah). Pemeriksaan di awal ini juga bertujuan untuk mengevaluasi jalan lahir apakah ada kelainan atau tidak semisal ada varises di vagina, infeksi keputihan, polip atau tumor di mulut rahim, yang bisa memengaruhi kehamilan ibu. Maka itu, pemeriksaan dalam harus dilakukan di awal kehamilan. Bila ada kelainan bisa diketahui dan ditangani segera.
Setelah itu baru dilakukan pemeriksaan USG. Ada kalanya, selama tak ada keluhan, dokter akan melewatkan pemeriksaan dalam dan langsung pada pemeriksaan USG. Hal ini akan lebih mempercepat, memudahkan pemeriksaan dan tidak menimbulkan rasa risih pada pasien.
b.             Trimester akhir
Tepatnya saat kehamilan usia 36 minggu, pemeriksaan dalam dibutuhkan untuk mengevaluasi kondisi jalan lahir bila memang direncanakan persalinan normal. Jadi akan diperiksa apakah mulut rahim sudah siap dan apakah kapasitas panggul ibu cukup luas untuk dilalui bayi. Jika tak ada masalah maka per-salinan dapat ditunggu sampai usia maksimal 42 minggu.
c.  Selain di trimester awal dan akhir, pemeriksaan dalam bisa dilakukan di trimester kedua bila memang ada indikasi. Contoh, ibu mengalami keputihan dalam jumlah banyak, yang berubah warna, berbau dan menyebabkan gatal. Atau ibu hamil mengalami perdarahan berupa bercak. Dalam kasus ini pemeriksaan dalam dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis serta memastikan sejauh mana masalah tadi membahayakan kehamilan ibu. Setelah itu barulah dilakukan pengobatan.
2.             Pemeriksaan dalam juga dilakukan saat ibu bersalin
         Pemeriksaan ini dilakukan pada saat memasuki kala I persalinan, saat ada gejala mulas-mulas dan ibu mengalami his secara teratur 2 kali dalam 15 menit sebagai tanda akan melahirkan. Pemeriksaan dalam ini dengan kepentingan untuk menentukan awal dan kemajuan dari persalinan.
         Khusus untuk memeriksa kemajuan persalinan, maka pemeriksaan dilakukan setiap 4 jam di fase laten (pembukaan mulut rahim 4 cm) dan setiap 2 jam di fase aktif (pembukaan mulut rahim 4-10 cm).
         Sedangkan penilaiannya meliputi pembukaan jalan lahir, turunnya kepala janin, apakah sudah memutar atau belum dan sampai mana putaran tersebut, karena kondisi ini akan menentukan jalannya persalinan.
         Contoh, bila ubun-ubun kecil sudah menghadap ke depan, berarti sudah turun mencapai pembukaan lengkap (10 cm) dan bayi sudah siap untuk dilahirkan. Jika dalam tenggang waktu 8 jam setelah pemeriksaan dalam kala I bayi belum juga lahir atau masih tetap pembukaan 3-4 cm maka perlu tambahan stimulasi (pacuan). Tentu akan diakhiri dengan segera dilahirkan atau kalau tindakan ini juga "tak mempan" berarti harus operasi sesar.




D.           Kontra Indikasi
Pemeriksaan dalam tidak dapat dilakukan pada beberapa kasus, seperti:
1.             Perdarahan
2.             Plasenta previa
3.             Ketuban pecah dini
4.             Persalinan preterm
E.            Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan dalam termasuk :
1.            Tutupi badan ibu sebanyak mungkin dengan sarung atau selimut.
2.            Minta ibu berbaring telentang dengan lutut ditekuk dan paha dibentangkan (mungkin akan membantu jika ibu menempelkan kedua telapak kakinya satu sama lain).
3.            Gunakan sarung angan DTT atau steril saat melakukan pemeriksaan.
4.            Gunakan kasa atau gulungan kapas DTT yang dicelupkan ke air DTT/larutan antiseptik. Basuh labia secara hati-hati,seka dari depan ke belakang untuk menghindarkan kontaminasi feses (tinja).
5.            Periksa genetelia eksterna, perhatikan apakah ada luka atau massa (benjolan) termasuk kondilomata varikositas vulva atau rektum,atau luka parut di perineum.
6.            Nilai cairan vagina dan tentukan apakah ada bercak darah, perdarahan pervaginam atau mekonium :
a.             Jika ada perdarahan pervaginam, jangan lakukan pemeriksaan dalam.
b.             jika ketuban sudah pecah, lihat warna dan bau air ketuban. Jika terlihat pewarnaan mekonium,nilai apakah kental atau encer dan periksa djj.
i.                    jika mekonium encer dan djj normal,teruskan pemantauan djj secara seksama menurut petunjuk partograf.jika jika ada tanda- tanda akan terjadi gawat janin lakukan rujukan segera.
ii.                   jika mekonium kental,nilai djj dan rujuk segera.
iii.                 jika tercium bau busuk mungkin telah terjadi infeksi.
7.            Dengan hati-hati pisahkan labia mayor dengan jari manis dengan ibu jari(gunakan  sarung tangan pemeriksa). Masukan jari telunjuk yang diikuti oleh jari tengah.janga mengeluarkan kedua jari tersebut sampai pemeriksan selesai dilakukan.jika selaput ketuban belum pecah,jangan melakukan tindakan amniotomi(merobeknya).
8.            Nilai vagina.luka parut pada vagina mengindikasikan ada riwayat robekan perinium atau tindakan episiotomi sebelumnya. Hal ini merupakan informasi penting untuk menentukan tindakan pada saat kelahiran bayi.
9.            Nilai pembukaan dan penipisan serviks.
10.        Pastikan tali pusat dan/atau bagian-bagian kecil(tangan atau kaki)tidak teraba pada saat melakukan periksa dalam.jika teraba maka ikuti langkah-langkah gawat darurat dan segera rujuk ibu kefasilitas kesehatan yang sesuai.
11.        Nilai penurunan bagian terbawah janin dan tentukan apakah bagian tersebut telah masuk kedalam rongga panggul.bandingkan tingkat penurunan kepala dari hasil periksa dalam dengan hasil periksaan melaui dinding abdomen untuk menentukan kemajuaan persalinan.
12.        Jika bagian terbawah adalah kepala,pastikan penunjuknya(ubun-ubun kecil,ubun-ubun besar atau fontanela magna)dan celah(sutura)sagitalis untuk menilai derajat penyusupan atau tumpang tindih tulang kepala dan apakah ukuran kepala janin sesuai dengan ukuran jalan lahir.
13.        Jika pemeriksaan sudah lengkap,keluarkan kedua jari dari pemeriksaan,celupkan sarung tangan kedalam larutan untuk dekontaminasi,lepaskan kedua sarung tangan tadi secara terbalik dan rendam dalam larutan dekontaminasi selama 10 menit.
14.        Cuci kedua tangan dan segera keringkan dengan handuk yang bersih dan kering.
15.        Bantu ibu untuk mengambil posisi yang lebih nyaman.
16.        Jelaskan hasil-hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarganya.


F.             Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan dalam
1.             Keadaan Perineum
Pada primipara perineum utuh dan elastis.
Pada multipara tidak utuh, longgar dan lembek. Untuk menentukan dengan menggerakkan jari dalam vagina ke bawah dan ke samping. Dengan cara ini juga diketahui otot levator ani normal teraba elastic.
2.             Sistokel Dan Rektokel
a.  Sistokel adalah benjolan pada dinding depan vagina yg disebabkan oleh kelemahan dinding belakang kandung kemih.
b. Rektokel adalah benjolan pada dinding belakang vagina disebabkan oleh kelemahan dinding depan rektum. Diakibatkan oleh persalinan yang berulang terutama ada robekan perineum atau bersamaan dengan prolapsus uteri.
3.       Pengeluaran pervaginaan
a.  Cairan putih kekuningan akibat rarang serviks atau monilia vagini
      tas, cairan hijau kekuningan karena trikhomonas.
b.  Lendir campur darah
c.  Cairan ketuban
d.  Darah berasal dari robekan jalan lahir, plasenta previa, solutio plasenta
e.     Mekoneum
4.             Serviks
  Perlu diperhatikan pembukaan, penipisan, robekan serviks dan kekakuan serviks.
 a.  Pembukaan ditentukan & diukur dg kedua jari. Kalau pemb > 6 cm lebih muda diukur dari forniks lateralis dg cara berapa cm lebar yg masih tersisa.
 b.  Menentukan penipisan kadang sukar terutama kalau serviks menempel di bag bawah janin.
 c.  Keadaan normal serviks lembut & elastis
5.             Ketuban
a.  Tentukan ketuban utuh atau tidak, di ketahui bila pemeriksaan dilakukan selagi  ada his.
 b.  Bagaimana keadaan ketuban
6.             Presentasi, titik penunjuk dan posisi
a.    Presentasi kepala diketahui bila teraba bagian bulat dan keras, tulang parietal, sutura sagitalis, ubun-ubun besar atau ubun-ubun kecil.
b.    Presentasi belakang kepala titik penunjuk (denominator)ubun-ubun kecil, presentasi bokong à sakrum
c.     Posisi kepala yg perlu ditentukan adalah letak ubun-ubun kecil terhadap panggul ibu 
7.             Turunnya kepala
Untuk menentukan di mana turunnya kepala diperkirakan dengan pemeriksaan luar dan dipastikan dengan pemeriksaan dalam. Untuk menentukan sampai di mana turunnya kepala ditentukan dengan bidang Hodge.
8.             Pemeriksaan panggul
Perlu diperhatikan bentuk dan ukuran panggul.
Untuk ukuran perlu diperhatikan :
 a. apakah promontorium teraba
 b. apakah linea inominata teraba seluruhnya, sebagian / beberapa bag
 c. apakah kecekungan sakrum cukup
 d. dinding sampng panggl lurus/miring
 f. spina iskhiadika runcing / tumpul
 g. arkus pubis sudut runcing/tumpul
 h. dasar panggul kaku, tebal atau elastis
9.       Tumor jalan lahir
Perlu diperhatikan apakah ada tumor pada jalan lahir yang kiranya menganggu proses persalinan . Tumor dapat bersifat neoplastik atau tumor radang.
G.           Prosedur pemeriksaan dalam
1.             Sebelum Pemeriksaan
a.      Yakinkan kandungan kemih ibu kosong
b.        Palpasi abdomen dulu. Ini adalah kebiasaan baik yang harus dikerjakan.
c.         Jangan pernah melakukan periksa dalam selama konstruksi karena sangat sensitive, nyeri dan mengimobilisasi ibu.
d.        Duduklah disebelah ibu dan bercakap dengannya untuk membantunya relaks sebelum pemeriksaan.
2.             Selama Pemeriksaan
a.         Bidan harus menerangkan apa yang ia kerjakan dan memeriksa apakah ibu dalam keadaan baik.
b.        Semua bidan harus waspada terhadap bahasa tubuhnya sendiri, hindari ekspresi cemas, kecewa atau lepas dari apa yang sedang terjadi.
c.       Waspadalah terhadap bahasa tubuh ibu dan pastikan ia merasa baik – baik saja.
3.             Setelah Pemeriksaan
a.       Dengarlah denyut jantung janin.
b.      Berilah ucapan selamat karena ia dapat menghadapi pemeriksaan dengan baik dan berilah kata – kata positif meskipun bila ada sedikit kelainan.
c.       Diskusikan temuan dengan ibu. Bila dilakukan pendekatan yang sensitive dan temuannya merupakan berita baik, maka dapat mengangkat semangat ibu dan menenangkannya, bila tidak ditangani dengan sensitive atau beritanya buruk maka pemeriksaan bisa menjadi bencana atau pengalaman negative.



 



BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
1.       Pemeriksaan dalam adalah pemeriksaan genitalia bagian dalam mulai dari vagina sampai serviks menggunakan dua jari, yang salah satu tekniknya adalah menggunakan skala ukuran jari(lebar satu jari berarti 1 cm) untuk menentukan diameter dilatasi serviks (pembukaan serviks  atau portio).
2.      Dalam pemeriksaan dalam terdapat 16 langkah yang harus diikuti.
3.      Terdapat prosedur-prosedur yang harus di ikuti baik sebelum, selama dan sesudah pemeriksaan dalam.

B.            Saran
1.      Lakukan pemeriksaan dalam secara tepat untuk menghindari adanya komplikasi
2.      Gunakan







Tidak ada komentar: