Senin, 15 April 2013

KPD



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
       Selaput ketuban yang membatasi rongga amnion terdiri atas amnion dan korion yang sangat erat kaitannya. Lapisan ini terdiri atas beberapa sel seperti selepitel, sel mesenkim dan sel trofoblast yang terikat erat dalam metrics kolagen. Selaput ketuban berfungsi menghasilkan air ketuban dan melindungi janin terhadap infeksi.
Dalam keadaan normal, selaput ketuban pecah dalam proses persalinan.  Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, disebut ketuban pecah dini pada kehamilan premature. Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban pecah dini. Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi 1% dari semua kehamilan. 70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.
Pecahnya selaput ketuban berkaitan dengan perubahan proses biokimia yang terjadi dalam kolagenmatriks eksta seluler amnion, korion, dan apoptosis membrane janin. Membrane janin dan desidua bereaksi terhadap stimuli, seperti infeksi dan peregangan selaput ketuban dengan memproduksi mediator seperti prostaglandin, sitokinin dan protein hormone. 


B.     Tujuan
1.      Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan IV.
2.      Untuk mengetahui definisi, penyebab, tanda dan gejala, diagnosis, patofisiologi dari ketuban pecah dini.
3.      Untuk mengetahui penatalaksanaan dari ketuban pecah dini.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    DEFINISI
               Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum terjadi proses persalinan yang dapat terjadi pada usia kehamilan cukup waktu atau kurang waktu (Cunningham, Mc. Donald, gant, 2002). Ketuban Pecah Dini adalah rupturnya membrane ketuban sebelum persalinan berlangsung (Manuaba, 2002).
               Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.
B.    PENYEBAB
Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Selain itu ketuban pecah dini merupakan masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya adalah sebagai berikut :
1.      Inkompetensi serviks (leher rahim)
Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin besar. Adalah serviks dengan suatu kelainan anatomi yang nyata, disebabkan laserasi sebelumnya melalui ostium uteri atau merupakan suatu kelainan congenital pada serviks yang memungkinkan terjadinya dilatasi berlebihan tanpa perasaan nyeri dan mules dalam masa kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti dengan penonjolan dan robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi (Manuaba, 2002).
2.      Peninggian tekanan inta uterin
Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya :
a.       Trauma : Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis
b.      Gemelli, Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada kehamilan gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi rahim yang lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan dibagian bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis dan mudah pecah.  (Saifudin. 2002)
c.       Makrosomia
Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan makrosomia menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan menyebabkan tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput ketuban, manyebabkan selaput ketuban menjadi teregang,tipis, dan kekuatan membrane menjadi berkurang, menimbulkan selaput ketuban mudah pecah. (Winkjosastro, 2006)
d.      Hidramnion
Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000mL. Uterus dapat mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis adalah peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur. Hidramnion akut, volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami distensi nyata dalam waktu beberapa hari saja
3.      Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang.
4.      Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP (sepalo pelvic disproporsi).
5.      Korioamnionitis
Adalah infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh penyebaran organisme vagina ke atas. Dua factor predisposisi terpenting adalah pecahnya selaput ketuban > 24 jam dan persalinan lama.

6.      Penyakit Infeksi
Adalah penyakit yang disebabkan oleh sejumlah mikroorganisme yang meyebabkan infeksi selaput ketuban. Infeksi yang terjadi menyebabkan terjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah.
7.      Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik)
8.      Riwayat KPD sebelumya
9.      Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
10.  Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu

C.    TANDA DAN GEJALA
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina.  Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya “mengganjal” atau “menyumbat” kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat   merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.
D.    DIAGNOSIS
1.      Pastikan selaput ketuban pecah.
2.      Tanyakan waktu terjadi pecah ketuban.
3.      Cairan ketuban yang khas jika keluar cairan ketuban sedikit-sedikit, tampung cairan yang keluar dan nilai 1 jam kemudian.
4.      Jika tidak ada dapat dicoba dengan menggerakan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien batuk atau mengedan.
5.      Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus (nitrazintes), jika lakmus merah berubah menjadi biru menunjukan adanya cairan ketuban (alkalis). pH normal dari vagina adalah 4-4,7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7,1-7,3. Tes tersebut dapat memiliki hasil positif yang salah apabila terdapat keterlibatan trikomonas, darah, semen, lendir leher rahim, dan air seni.
6.      Tes Pakis, dengan meneteskan cairan ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukan kristal cairan amniom dan gambaran daun pakis.
7.      Tentukan usia kehamilan, bila perlu dengan pemeriksaan USG.
8.      Tentukan ada tidaknya infeksi.
9.      Tanda-tanda infeksi adalah bila suhu ibu lebih dari 38OC serta cairan ketuban keruh dan berbau.
10.  Leukosit darah lebih dari 15.000/mm3.
11.  Janin yang mengalami takikardi, mungkin mengalami infeksi intrauterin.
12.  Tentukan tanda-tanda persalinan.
13.  Tentukan adanya kontraksi yang teratur.
14.  Periksa dalam dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif ( terminasi kehamilan )

Pemeriksaan Diagnostik
a.       Ultrasonografi
Ultrasonografi dapat mengindentifikasikan kehamilan ganda, anormaly janin atau melokalisasi kantong cairan amnion pada amniosintesis.
b.      Amniosintesis
Cairan amnion dapat dikirim ke laboratorium untuk evaluasi kematangan paru janin.
c.       Pemantauan janin
Membantu dalam mengevaluasi janin
d.      Protein C-reaktif
Peningkatan protein C-reaktif serum menunjukkan peringatan korioamnionitis

E.    PATOFISIOLOGI
Banyak teori, mulai dari defect kromosom, kelainan kolagen, sampai infeksi. Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai 65%).
High virulensi : Bacteroides
Low virulensi : Lactobacillus
Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblast, jaringan retikuler korion dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh system aktifitas dan inhibisi interleukin -1 (iL-1) dan prostaglandin.
Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas iL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerasi kolagen pada selaput korion/ amnion, menyebabkan ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.

F.    PENGARUH KPD

1.        Terhadap Janin: Walaupun ibu belum menunjukan gejala-gejala infeksi tetapi janin mungkin sudah terkena infeksi, karena infeksi intrauterin lebih dahulu terjadi (amnionitis,vaskulitis) sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan meninggikan morrtalitas dan morbiditas perinatal.
2.        Terhadap Ibu: Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi bila terlalu sering diperiksa dalam. Selain itu juga dapat dijumpai infeksi puerpuralis atau nifas, peritonitis dan septikemia, serta dry-labor. Ibu akan merasa lelah karena terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan naik, nadi cepat dan nampaklah gejala-gejala infeksi lainnya.


G.    KOMPLIKASI KPD
Komplikasi yang timbul akibat Ketuban Pecah Dini bergantung pada usia kehamilan. Dapat terjadi Infeksi Maternal ataupun neonatal, persalinan prematur, hipoksia karena kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden SC, atau gagalnya persalinan normal.
1.      Persalinan Prematur
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.
2.      Infeksi
Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada Ketuban Pecah Dini. Pada ibu terjadi Korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban Pecah Dini premature, infeksi lebih sering dari pada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada KPD meningkat sebanding dengan lamanya periode laten.
3.      Hipoksia dan asfiksia
Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.
4.      Syndrom deformitas janin
Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin, serta hipoplasi pulmonal

H.    PENANGANAN
1.      Konservatif
a.       Rawat di rumah sakit
b.      Jika ada perdarahan pervaginam dengan nyeri perut, pikirkan solusio plasenta
c.       Jika ada tanda-tanda infeksi (demam dan cairan vagina berbau), berikan antibiotika sama halnya jika terjadi amnionitosis
d.      Jika tidak ada infeksi dan kehamilan < 37 minggu:
-          Berikan antibiotika untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin
-          Ampisilin 4x 500mg selama 7 hari ditambah eritromisin 250mg per   oral 3x perhari selama 7 hari.
e.       Jika usia kehamilan 32 - 37 mg, belum inpartu, tidak ada infeksi, beri dexametason, dosisnya IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 x, observasi tanda-tanda infeksi dan kesejahteraan janin.
f.       Jika usia kehamilan sudah 32 - 37 mg dan sudah inpartu, tidak ada infeksi maka berikan tokolitik ,dexametason, dan induksi setelah 24 jam.

2.      Aktif
a.       Kehamilan lebih dari 37 mg, induksi dengan oksitosin
b.      Bila gagal Seksio Caesaria dapat pula diberikan misoprostol 25 mikrogram – 50 mikrogram intravaginal tiap 6 jam max 4 x.
c.       Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan persalinan diakhiri. Indikasi melakukan induksi pada ketuban pecah dini adalah sebagai berikut :
1)      Pertimbangan waktu dan berat janin dalam rahim. Pertimbangan waktu apakah 6, 12, atau 24 jam. Berat janin sebaiknya lebih dari 2000 gram.
2)      Terdapat tanda infeksi intra uteri. Suhu meningkat lebih dari 38°c, dengan pengukuran per rektal. Terdapat tanda infeksi melalui hasil pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan kultur air ketuban

Penatalaksanaan lanjutan :
1.      Kaji suhu dan denyut nadi setiap 2 jam. Kenaikan suhu sering kali didahului kondisi ibu yang menggigil.
2.      Lakukan pemantauan DJJ. Pemeriksaan DJJ setiap jam sebelum persalinan adalah tindakan yang adekuat sepanjang DJJ dalam batas normal. Pemantauan DJJ ketat dengan alat pemantau janin elektronik secara kontinu dilakukan selama induksi oksitosin untuk melihat tanda gawat janin akibat kompresi tali pusat atau induksi. Takikardia dapat mengindikasikan infeksiuteri.
3.      Hindari pemeriksaan dalam yang tidak perlu.
4.      Ketika melakukan pemeriksaan dalam yang benar-benar diperlukan, perhatikan juga hal-hal berikut:
a.  Apakah dinding vagina teraba lebih hangat dari biasa
b.  Bau rabas atau cairan di sarung tangan anda
c.  Warna rabas atau cairan di sarung tangan
5.      Beri perhatian lebih seksama terhadap hidrasi agar dapat diperoleh gambaran jelas dari setiap infeksi yang timbul. Seringkali terjadi peningkatan suhu tubuh akibat dehidrasi.

BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Pemeriksaan dalam dengan jari meningkatkan resiko infeksi dan tidak perlu dilakukan pada wanita dengan pecah ketuban dini, karena ia akan diurus sesuai kebutuhan persalinan sampai persalinan terjadi atau timbul tanda dan gejala korioamninitis.
Jika timbul tanda dan gejala korioamnionitis,diindikasikan untuk segera berkonsultasi dengan dokter, guna menginduksi persalinan dan kelahiran. Pilihan metode persalinan(melalui vagina atau SC) bergantung pada usia gestasi, presentasi dan beratkorioamnionitis.
B.   Saran
Ketuban Pecah Dini dapat menimbulkan kecemasan pada wanita dan keluarganya. Bidan harus membantu wanita mengeksplorasi rasa takut yang menyertai perkiraan kelahiran janin premature serta risiko tambahan korioamnionitis. Rencana penatalaksanaan yang melibatkan kemungkinan periode tirah baring dan hospitalisasi yang memanjang harus didiskusikan dengan pasien dan keluarganya. Pemahaman dan kerja sama keluarga merupakan hal yang penting untuk kelanjutan kehamilan.











DAFTAR PUSTAKA

Chandranita, Manuaba, Ida Ayu, dkk. 2009. Buku Ajar Patologi Obstetri . Jakarta: EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT.Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal . Jakarta: YBP-SP















LAMPIRAN

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN PATOLOGI
Ny “R” 23 thn G1P0A0 Ah0 UK 39 minggu dengan Ketuban Pecah Dini
Di RS Umi Barokah, Boyolali

No. Register                                                    : 0195540612
Masuk RS/PKM/BPM Tanggal/Pukul            : 20 juni 2012, Pukul: 07.30 WIB
Dirawat di ruang                                             : -

I.              PENGKAJIAN DATA, Tanggal/Pukul : 20 juni 2012/07.30WIB       Oleh : Bidan
A.          Biodata
 Ibu                                                                  Suami
Nama              : Ny R                                     Tn. B
Umur              : 23 tahun                                27 tahun
Agama            : Islam                                     Islam
Suku/bangsa   : Jawa/Indonesia                     Jawa/Indonesia
Pendidikan     : SMA                                     SMA
Pekerjaan        : Ibu rumah tangga                  Wiraswasta
Alamat           : Geger, RW 11/RT 2              Geger, RW 11/RT 2 
                       banyudono boyolali                 banyudono boyolali
                       
B.           Data Subjektif
1.   Alasan datang/dirawat
Rujukan puskesmas dengan indikasi Ketuban pecah dini 5 jam

2.    Keluhan utama
Ibu mengatakan merasa perutnya mules dan kenceng-kenceng sejak pukul 01.00 WIB, mengeluarkan lendir darah sejak pukul 06.30 WIB
3.  Riwayat menstruasi
Menarche       : 12 tahun                    Siklus              : 30 hari
Lama              : 6 hari                         Teratur             : teratur
Sifat darah     : cair                            Keluhan           : tidak ada
4.          Riwayat perkawinan
Status perkawinan  : sah                 Menikah ke                 :  I
Lama           : 1tahun           Usia menikah pertama kali      : 22 th

5.                  Riwayat obstetrik : G1P0A0 Ah0
Hamil ke
Persalinan
Nifas
Tanggal
Umur kehamilan
Jenis persalinan
Penolong
Komplikasi
JK
BB lahir
Laktasi
Komplikasi
Hamil ini
-
-
-
-
-
-
-
-
-

6.                  Riwayat kontrasepsi yang digunakan
No
Jenis kontrasepsi
Pasang
Lepas
tanggal
oleh
Tempat
keluhan
tanggal
Oleh
tempat
alasan

-
-
-
-
-
-
-
-
-































7.   Riwayat Kehamilan Sekarang
a.       HPM  : 20-09-2011                      HPL    : 27-06-2012
b.      ANC pertama umur kehamilan    : 4 minggu
c.       Kunjungan ANC
Trimester I
Frekuensi              : 2 kali
Keluhan                : Mual, muntah, sering kencing
Komplikasi           : Tidak ada
Terapi                   : vit. B6 (jika mual), asam folat 1x1
Trimester II
Frekuensi              : 3 kali
Keluhan                : pusing
Komplikasi           : Tidak ada
Terapi                   : tablet fe 1x1, kalk 1x1
Trimester III
Frekuensi              :  2 kali
Keluhan                :  pegel-pegel pada pinggang
Komplikasi           :  tidak ada
Terapi                   : tablet fe 1x1, kalk 1x1
d.      Imunisasi TT        :  2 kali
TT 1                      : Tanggal 01 maret 2011
TT 2                      : Tanggal 01 april 2011
TT 3                      : Tanggal -
TT 4                      : Tanggal -
TT 5                      : Tanggal -
e.       Pergerakan janin dalam 24 jam (dalam sehari )
Ibu mengatakan merasakan pergerakan janin sebanyak kurang lebih 24x dalam sehari (24 jam).

8.      Riwayat kesehatan
1.       Penyakit yang pernah/sedang diderita (menular, menurun dan menahun)
Ibu mengatakan tidak pernah/sedang menderita penyakit menular (TBC, HIV/AIDS, hepatitis, PMS), Menurun (hipertensi, asma, DM) dan menahun (ginjal, jantung).
2.       Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga (menular, menurun dan
menahun)
Ibu mengatakan dari pihak keluarga ibu maupun suami tidak pernah/sedang menderita penyakit menular (TBC, HIV/AIDS, hepatitis, PMS), Menurun (hipertensi, asma, DM) dan menahun (ginjal, jantung)
3.      Riwayat keturunan kembar
Ibu mengatakan tidak memiliki keturunan kembar
4.       Riwayat operasi
Ibu mengatakan tidak pernah operasi caesar, appendicitis, maupun operasi lainnya.
5.       Riwayat alergi obat
Ibu mengatakan tidak ada alergi obat.

9.   Pola pemenuhan kebutuhan
Sebelum hamil
a.    Pola nutrisi                                  
Makan                                                      minum
Frekuensi              : 3x/hari                       8x/hari
Porsi                     : 1 piring                      1 gelas
Jenis                     : Nasi, sayur, lauk        Air putih, susu
Pantangan            :Tidak ada                   Tidak ada
Keluhan                :Tidak ada                   Tidak ada
b. Pola eliminasi
BAB                                                         BAK
Frekuensi              : 1x/hari                       6x/hari
Konsistensi           : Lunak                        Cair
Warna                   : Khas feses                 Khas urine
Keluhan                : Tidak ada                  Tidak ada
c. Pola istirahat        
Tidur siang                                               Tidur malam
Lama                    : 1 jam                         8 jam
Keluhan                : Tidak ada                  Tidak ada
d. Personal hygiene             
Mandi                               : 2x/hari                      
Ganti pakaian luar            : 2x/hari                      
Ganti pakaian dalam        : 2x/hari                      
Gosok gigi                        : 2x/hari                      
Keramas                           : 3x/minggu                
e. Pola seksualitas               
Frekuensi                          : 2x/minggu                
Keluhan                            : Tidak ada                 

f. Pola aktivitas ( terkait kegiatan fisik, olah raga )
-          Ibu mengatakan sering mengikuti senam saat hamil
-          Ibu mengatakan melakukan kegiatan fisik yaitu melakukan pekerjaan rumah tangga

10.  Kebiasaan yang mengganggu kesehatan (merokok, minum jamu, minuman beralkohol)
Ibu mengatakan tidak memiliki kebiasaan seperti merokok, minum jamu, dan minum minuman beralkohol.

11.  Data psikososiospiritual, (persiapan menghadapi persalinan)
-Ibu mengatakan sudah siap menghadapi persalinan.
-Ibu mengatakan sudah menyiapkan perlengkapan persalinan meliputi perlengkapan ibu dan bayi.

12. Pengetahuan ibu ( tentang kehamilan , persalinan , laktasi dan masa nifas )
     - Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang proses terjadinya kehamilan dan tanda bahaya kehamilan
     - Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang tanda-tanda persalinan           
     - Ibu mengatakan belum mengetahui tentang laktasi dan masa nifas
13. Lingkungan yang berpengaruh
- Ibu mengatakan lingkungan sekitar rumah bersih dan nyaman
- Ibu mengatakan tidak memiliki hewan peliharaan

C.  Data Objektif
1.         Pemeriksaan umum
Keadaan umum           : sedang           Kesadaran : Compos mentis
Status emosional         : Stabil
Tanda vital                 
Tekanan darah             : 110/80 mmHg           Nadi    : 84 x/menit
Pernafasan                   : 24 x/menit                 Suhu    : 36,2 0c
BB sebelum hamil       : 40 kg                         TB       : 150 cm
                        BB saat hamil              : 51 kg
2.       Pemeriksaan Fisik
Kepala             : mesocephalus, tidak ada benjolan, kulit kepala  bersih, tidak   ada nyeri tekan.
Rambut            : lurus, hitam, tidak ada ketombe atau kutu.
Wajah             : oval, tidak pucat, tidak ada bekas luka, terdapat cloasma gravidarum.
Mata                : simetris, konjungtiva merah muda, sklera putih bersih, tidak ada sekret, tidak strabismus.
Hidung            : bersih,lubang hidung simetris, tidak ada sekret, tidak ada polip.
Mulut                         : rongga mulut bersih, tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi, tidak ada peradangan pada gusi, tidak ada pembesaran kelenjar tonsil.
Telinga           : simetris, ada 2 lubang telinga, bersih, tidak ada serumen, pendengaran baik.
Leher                          : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar parotis, kelenjar limfe, dan vena jugularis.
Dada                          : tidak ada retraksi dinding dada, pernapasan teratur, tidak ada wheezing.
Payudara        : simetris, tidak ada tarikan, puting susu menonjol, kolustrum sudah keluar, tidak ada benjolan atau massa.
Abdomen       : tidak ada bekas operasi, terdapat linea nigra dan striae gravidarum, TFU 2 jari di bawah px

Palpasi

Leopold I           : Di fundus teraba bulat, lunak, tidak melenting berarti bokong.
Leopold II       : Di kanan ibu teraba keras, memanjang berarti punggung. di kiri ibu teraba bagian kecil-kecil janin berarti ekstremitas.
Leopold III     : Bagian terendah janin teraba bulat, keras, melenting berarti kepala.
Leopold IV        : Divergen, berarti bagian terendah janin sudah masuk panggul.
Osborn test     : Tidak dilakukan
Menurut Mc. Donald 
TFU          : 30 cm                        TBJ      : (30 – 11) x 155 = 2945 gram
Auskultasi
DJJ           : 138 x/menit  
Ekstremitas   
Atas                 : simetris, gerakan aktif, tidak ada oedem, tidak ada polidaktili, jari lengkap.
Bawah             : simetris, gerakan aktif, tidak ada oedem, tidak ada virises, tidak ada sianosis, tidak ada polidaktili
Genetalia             : terdapat lendir darah, dan air ketuban terlihat merembes, tidak ada pembesaran kelenjar bartholini,tidak ada varises
Pemeriksaan dalam : tanggal 20 juni 2012, pukul 07.30 WIB
Tujuan             : untuk mengetahui jauhnya persalinan
Indikasi           : kenceng-kenceng teratur, keluar air ketuban
Hasil                 : vulva uretra tenang,dinding vagina licin, portio masih tebal, pembukaan 1 cm, selaput ketuban sudah pecah, air ketuban jernih, STLD +

3.         Pemeriksaan penunjang           Tanggal: 20 juni 2012, Pukul: 08.00 WIB
Golongan darah : AB
HbsAg                : negatif (-)
HB                     : 13 g/dL

4.         Data penunjang
Tidak ada

II.                INTERPRETASI DATA
A.    Diagnosa kebidanan
Ny ‘R’ umur 23 tahun G1P0A0 Ah0 UK  39 minggu , janin tunggal hidup, preskep, puka, dengan ketuban pecah dini 5 jam, dalam persalinan kala 1 fase laten
Data Dasar :
Ds  : -Ibu mengatakan umurnya 23 tahun
-Ibu mengatakan ini kehamilannya yang pertama dan belum pernah keguguran
                        -Ibu mengatakan HPHT tanggal 20-09-2011
  Do : -KU: sedang              -Kesadaran : composmentis
          -TD:110/80 mmHg   -pernapasan     : 24x/menit
         - Nadi : 84 x/menit    - Suhu : 36,20C            - DJJ : 138 x/menit
         - BB : 51 kg               - TB : 150 cm              - TFU : 30 cm
         - Leopold I : bokong
         -Leopold II : Puka
         -Leopold III : kepala.
         -Leopold IV :sudah masuk panggul
            PD I: vulva uretra tenang, dinding vagina licin, porsio tebal, pembukaan 1 cm, selaput ketuban sudah pecah, air ketuban jernih, STLD +
B.     Masalah
Tidak ada
Data dasar :
Tidak ada

III.             IDENTIFIKASI DAN ANTISIPASI DIAGNOSA POTENSIAL
-          Infeksi
-          Gawat janin
-           
IV.             TINDAKAN SEGERA
A.    Mandiri
Perbaikan KU (pasang infus)
B.     Kolaborasi
Dr. SP.Og untuk pemberian terapi dan tindakan operasi Secio Caesaria (SC)
C.     Merujuk
Tidak ada



V.           PERENCANAAN        Tanggal : 20 Juni 2012            Pukul : 07.35 WIB
1.      Beri tahu kepada ibu dan keluarga hasil pemeriksaan
2.      Pasang infus
3.      Inform consent kepada ibu dan keluarga
4.      Ajarkan ibu teknik relaksasi
5.      Siapkan pasien pre operasi
6.      Pantau suhu, nadi dan DJJ
7.      Pindahkan ibu ke brankat
8.      Atur posisi ibu agar nyaman dan Beri dukungan
9.      Antar pasien ke ruang operasi
10.  Dokumentasikan hasil

VI.        PELAKSANAAN        Tanggal: 20 Juni 2012              Pukul : 07.40 WIB
1.      Memberitahukan kepada ibu dan keluarga hasil pemeriksaan. TD: 110/80 mmHg, N: 84x/menit, S: 36,20C, R: 24x/menit, Djj :138x/menit,ibu mengalami ketuban pecah dini 5 jam, pembukaan 1 cm.
2.      Memasang infus RL 20 tmp untuk memenuhi kebutuhan cairan elektrolit dan memperbaiki keadaan umum ibu serta melakukan kolaborasi dengan dokter SP.Og
3.      Melakukan inform consent kepada ibu dan keluarga bahwa demi memperkecil adanya komplikasi karena ketuban pecah dini yang dialami oleh ibu, maka ibu akan dilakukan operasi SC untuk melahirkan bayi mengingat kondisi ibu yang sudah lemah serta tidak memungkinkan bila akan dilahirkan secara normal pervaginam.
4.      Mengajarkan kepada ibu teknik relaksasi dengan menarik nafas panjang dari hidung dan mengeluarkan dari mulut, atau bisa juga dengan membantu ibu memilih posisi yang nyaman seperti miring ke kiri, dapat dilakukan ketika ada kontraksi.
5.      Menyiapkan pasien preoprasi yaitu ibu dianjurkan untuk berpuasa 6 jam sebelum dan sesudah operasi, menganjurkan ibu untuk membersihkan diri, mengganti baju ibu dengan baju operasi, membersihkan rambut pubis ( scaren ), melakukan vulva hygine, memasang selang kateter, menyiapkan perlengkapan ibu seperti kain, pampers, baju ibu dan perlengkapan bayi seperti baju, popok, kain bedong, penutup kepala, kaos tangan dan kaki.
6.      Memantau keadaan ibu dengan mengukur suhu dan denyut nadi ibu tiap 2 jam, dan DJJ tiap 1 jam sekali sebelum tindakan operasi SC dimulai.
7.      Memindahkan ibu ke brankat yang akan digunakan untuk mengantar ibu ke ruang operasi (OK).
8.      Mengatur posisi ibu agar nyaman dan memberi dukungan kepada ibu dengan melibatkan suami, orang tua atau orang terdekat ibu agar ibu merasa nyaman dan tidak merasa sendiri ketika akan menghadapi proses operasi.
9.      Mengantar pasien ke ruang operasi (OK).
10.  Mendokumentasikan tindakan dan hasil tindakan yang telah dilakukan.
VII.     EVALUASI                  Tanggal : 20 Juni 2012            Pukul : 07.50 WIB
1.      Ibu dan keluarga sudah mengatahui hasil pemeriksaan dan keadaan ibu sekarang.
2.      Infus RL 20 tetes/menit sudah dipasang.
3.      Keluarga setuju bila ibu harus dilakukan tindakan operasi SC demi keselamatan ibu dan bayi.
4.      Ibu sudah dapat mempraktekkan teknik relaksasi dengan benar.
5.      Cateter sudah terpasang dan ibu sudah siap untuk di operasi
6.      Nadi, suhu dan DJJ sudah di pantau dan hasilnya normal.
7.      Ibu sudah berada di atas brankat.
8.      Ibu dalam keadaan nyaman dan percaya diri bahwa operasi akan berjalan dengan lancar.
9.      Pasien sudah berada di ruang operasi.
10.  Hasil tindakan sudah di dokumentasikan.
KALA IV

              I.            DATA SUBYEKTIF, Tanggal : 20 Juni 2012        Pukul : 13.30 WIB
-          Ibu mengatakan sangat senang bayinya sudah lahir dengan selamat
-          Ibu mengatakan badannya masih teras lemas, gemetar dan ingin muntah

           II.            DATA OBYEKTIF, Tanggal : 20 Juni 2012          Pukul : 13.30 WIB
-          TTV :
Tekana darah     : 123/91 mmHg
Nadi                   : 98 x/menit
Repirasi              : 21 x/menit
Suhu                   : 36,5 0C
-          Bayi lahir tanggal 20 Juni 2012 pukul 13.00 WIB, menangis kuat, gerakan aktif, warna kulit kemerahan.
-          Plasenta sudah lahir, kotiledon lengkap, tidak ada lobus tambahan, insersi tali pusat sentralis, panjang tali pusat : 60 cm, berat tali pusat : 500 gram.
-          TFU : 2 jari dibawah pusat
-          Kontraksi : baik dan keras

        III.            ASESSMENT
1.      Diagnosa kebidanan
Seorang ibu Ny. ‘R’ umur 23 tahun P1A0Ah1 dalam persalinan kala IV

2.      Diagnosa Masalah
Tidak ada


        IV.            PENATALAKSANAAN, Tanggal : 20 Juni 2012,            Pukul: 13.35 WIB
1.      Melakukan observasi meliputi tekanan darah, nadi, respirasi, urine, kontraksi dan perdarahan tiap 15 menit dalam 1 jam diruang operasi (OK).
Ibu sudah di observasi dan keadaannya normal.
2.      Merapikan ibu dengan memakaikan ibu pampers, memasang kain atau jarik, dan memberikan selimut.
Ibu sudah memakai pampers, kain jarik dan selimut.
3.      Memantau tetesan infus untuk mengatahui/ mengontrol cairan yang masuk ke tubuh ibu.
Tetesan 20 tetes per menit.
4.      Memindahkan ibu ke brankat dan mengantar ibu kembali ke kamarnya setelah 1 jam pemantauan di ruang operasi (OK)
Ibu sudah dipindahkan kekamarnya.
5.      Memberikan konseling pasca operasi kepada ibu dan keluarga bahwa ibu harus berpuasa selama 6 jam setelah tindakan operasi dengan tidak minum atau makan, ibu tidak boleh terlalu banyak gerak dan gemetar atau rasa ingin muntah yang ibu rasakan saat ini adalah efek dari obat bius serta akan hilang dengan sendirinya, jadi ibu dan keluarga tidak perlu khawatir.
Ibu dan keluarga sudah mengerti tentang tindakan yang harus dilakukan pasca operasi.
6.      Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya bila keadaan ibu sudah memungkinkan, ibu bisa menyusui bayinya dengan cara berbaring di tempat tidur dan meletakkan bayi di samping ibu.
Ibu sudah menyusui bayinya.
7.      Mendokumentasikan hasil tindakan.
Hasil tindakan sudah didokumentasikan.

LEMBAR OBSERVASI

No. Reg : 0195540612  Nama pasien : Ny. ‘R’  Umur : 23 tahun  Nama suami : Tn. ‘B’
G1P0A0 Ah0  Alamat : Geger, RW 11/ RT 2, Banyudono, Tugusari, Banyudono, Boyolali
Masuk tgl/jam : 20 Juni 2012/ 07.30 WIB, Ketuban pecah sejak pukul : 03.00 WIB,
Mules sejak pukul 01.00 WIB.
Tgl
Jam
(WIB)
DJJ
(x/ ment)
HIS
NADI
(x/mnit)
SUHU
(0C)
LAIN-LAIN (TD,Ketuban,PD,Px.penunjang)
Frek
(x/10 menit)
Durasi
(detik)
Kekuatan
20/06/12
07.30
138
2
20
sedang
80
36,5
TD:120/70 mmHg,ketuban pecah sejak 5jam yang lalu,PD:vulva uretra tenang,dinding vagina licin, porsio masih tebal, selaput ketuban sudah pecah, STLD +

08.00
135
2
30
sedang




09.00
134
3
30
sedang
82
36,5


10.00
136
3
30
sedang




11.00
140
3
35
sedang
84
36,7


12.00
140
3
35
sedang
83
36,7
Lakukan operasi SC !!!


Tidak ada komentar: